Blackburn Nemesis ( Sebuah refleksi akhir tahun )

Malam minggu itu bisa saja menjadi salah satu malam tahun baru ceria yang penuh canda tawa apabila MUFC menang, mengambil alih pemuncak klasemen, mengirimkan kartu ucapan “New Years Eve” yang manis buat segenap warga Eastland bin Ittihad dan tentu saja sebuah kado ulang tahun yang manis buat sang Manajer, Mighty MUFC’s Old Godfather, Sir Alex Ferguson yang merayakan ulang tahunnya yang ke 70. Namun kenyataannya lain,………KITA KALAH………kalah dari Blackburn Rovers sang juru kunci klasemen,………….di kandang sendiri…………….

Saya selalu senang saat Roy Keane yang sempat melontarkan kritikan semacam : “The Players has let our manager down.” Apa yang kita lihat di Basel tidak jauh berbeda seperti apa yang terjadi di malam tahun baru kemarin. Coba Roy Keane masih ada di kamar ganti pemain, mungkin hairdryer treatment Sir Alex yang akhir-akhir ini tampaknya semakin pudar bisa dilaksanakan Keano…:)

Ini adalah kekalahan kedua yang dialami MUFC dalam musim ini setelah penghancuran 1-6 oleh City pada akhir Oktober lalu, kedua-duanya terjadi di Old Trafford. Bukan sebuah pemandangan yang sedap dipandang mata ketika kita menengok bagaimana laga kandang kita di sepanjang musim lalu yang sedemikian sempurna TIDAK TERKALAHKAN. Sebenarnya apa yang terjadi ? Mari kita telusuri jalannya pertandingan yang seharusnya dengan “mudah” kita menangkan yang mungkin merefleksikan paruh musim ini …….. ( sebagai info tambahan, season lalu MUFC menang dengan skor 7-1 melawan tim yang sama di Old Trafford..ironis )

1. Wayne Rooney ( The Talisman )

Sir Alex Ferguson sekali lagi merotasi skuadnya yang membuat kita harus mengerutkan dahi. Bukan Carrick yang harus berpasangan dengan Jones di sentral pertahanan ataupun Park Ji Sung yang harus bertindak sebagai gelandang tengah, namun yang membuat saya terheran-heran adalah menurunkan Rafael sebagai gelandang tengah juga menemani Park ??! Di mana Gibson? Di mana Rooney ? Apakah ini hanya merupakan strategi rotasi agar tim bisa bersiap dengan lebih baik saat harus berkunjung selang 3 hari saja saat melawat ke St James Park menghadapi Newcastle Rabu dinihari depan (4/1/2012)

Hingga keesokan harinya saya sempat membaca bahwa Rooney, Gibson dan Evans sedang terkena skorsing akibat melanggar larangan keluar saat Boxing Day kemarin, dan mereka diharuskan berlatih di hari Rabu kemarin di mana seharusnya hari itu adalah hari di mana skuad diliburkan dari latihan. Rooney sendiri terlihat hanya menonton dari tribun.

Dari lansiran situs resmi klub, SAF berujar : “Wayne hasn’t trained well this week, he’s missed a few days and we’re hoping that he trains today, tomorrow and, by Wednesday, he should be okay. It’s little strains here and there.” …hmmmm, sepertinya ada yang tidak beres.

Jika berita lansiran The Daily Mail ini benar yang sebenarnya terjadi, maka  Rooney, Gibson dan evans jelas berhutang 3 poin pada tim dan mereka HARUS membayarnya!

2. Dimitar Berbatov ( Old Soldier never dies )

Gol pertama Blackburn oleh Yakubu dari titik putih pasca Samba dijatuhkan oleh Berbatov tidak saya anggap sebagai sebuah point penting yang mengubah jalannya pertandingan. Berbatov bukanlah seorang pemain bertahan, dan saya tidak akan menyalahkannya saat tangannya tak kunjung lepas menarik baju Cris Samba hingga terjatuh walau posisinya belum benar-benar mengancam gawang De Gea.

Di babak kedua, Berbatov seolah membayar “dosa” nya tersebut dengan 2 gol penyeimbang kedudukan. Tidak ada yang lebih baik dari seorang pemain yang berusaha sekuat tenaga membayar kesalahannya dan dia berhasil melakukannya hingga membuat moral dan semangat tim kembali membara. Hernandez benar-benar terlihat inferior di samping Berbatov yang sangat dominan dalam 2 pertandingan terakhir. Bisa jadi Berbatov yang separuh musim lalu harus banyak berada di cadangan akan membuat keadaan terbalik terhadap Hernandez musim ini. Bagi saya Berbatov adalah man of the match di skuad kita pada pertandingan lawan Blackburn kemarin, dan dia bisa menjadi pemain kunci kita dalam mempertahankan gelar EPL musim ini.

3. Our Midfielder ( Problem as Usually )

Lack of creativity alias miskin kreasi ..Mungkin begitulah gambaran umum yang sering kita lihat dari lini tengah kita saat gagal membongkar pertahanan lawan. Pasca cederanya Cleverley kita terbantu oleh solidnya penampilan Carrick, namun saat Carrick ditarik menjadi bek saat lini belakang sedang krisis? Hal ini terlihat sebagai sebuah masalah kronis di babak pertama, hingga akhirnya Anderson masuk di babak kedua. Bukan permainan terbaiknya, namun pasca cedera yang cukup lama, permainannya kemarin cukup lumayan daripada harus mempertahankan Rafael di samping Park. Nani bukanlah seorang Ronaldo yang mampu mengubah pertandingan melalui permainannya sendiri, Welbeck bukanlah seorang pemain sayap, Hernandez belum juga bermain sebagaimana mestinya pasca cedera di Villa Park beberapa waktu lalu.

4. Goalkeeper ( The Key Figure to reach the 20th )

Sir Alex berujar : We’ve lost two terrible goals and you can’t do that in games like this.” pasca pertandingan. 2 gol? 2 gol yang mana? Oohhh,…pasti gol Yakubu saat lini belakang kita Nampak terlihat bodoh dalam mengantisipasi terobosan Yakubu seorang diri yang mengakibatkan dia langsung berhadap-hadapan dengan De Gea dan mampu menakhlukkannya di tiang dekat, dan…..dan…..gol ketiga mereka oleh Hanley, benar-benar meruntuhkan moral tim kala semangat untuk memenangkan pertandingan pasca gol penyama kedudukan dari Berbatov. Sekali lagi kelamahan david De Gea dalam mengantisipasi umpan-umpan silang dan sepak pojok menjadi momok yang menakutkan bagi kita saat ini. De Gea memang “lolos” dari “serangan udara”  brutal di Britannia kala menghadapi Stoke, namun kegagalan demi kegagalannya saat bertarung dengan pemain lawan dalam mengantisipasi serangan udara tersebut harus dibayar mahal kemarin.

Haruskah De Gea terus dipasang saat sebenarnya dia BELUM siap menjadi kiper utama di MUFC? Tekanan yang besar, cara bermain yang berbeda, kemampuan berbahasa dan juga adaptasi masih harus dilalui De Gea jauh…jauh ke depan untuk mendapatkan status LAYAK sebagai kiper utama MUFC, bukan di musim ini saya kira. Keputusan SAF yang sering merotasi  penjaga gawang juga bukan merupakan kebiasaan yang sering kita lihat selama masa kepemimpinannya.  Boleh jadi merupakan pertanda bahwa SAF sendiri masih belum menentukan antara Lindegaard ataupun De Gea yang nantinya akan menjadi kiper utama MUFC ke depan walau jersey #1 sudah dikenakan De Gea saat ini.

5. Sir Alex Ferguson ( The Manager )

Genap 70 tahun usia Sir Alex pada 31 Desember kemarin, tidak banyak seorang manajer bertahan di “kursi panas” bekerja sebagai Manajer, apalagi di klub sekaliber MUFC. Pada konferensi pers sebelum match melawan Blackburn  kemarin, dia berujar : “I think I’ve got three years at the club. As long as my health stays up, and as long as I’m still enjoying it and still getting the satisfaction of the team doing its best.”  Rasanya pernyataan-pernyataan semacam ini selalu dilontarkan SAF dalam menjawab pertanyaan wartawan soal pensiun. :)

Hampir semua fans MUFC gembira saat SAF menyatakan hal demikian, rezim ini akan berlanjut berarti kesuksesan juga akan berlanjut, benar bukan? Atau jangan-jangan sebagian besar fans sudah berfikir bahwa SAF = MUFC, No SAF = No ……… ?

Nyatanya SAF sendiri adalah sosok figur yang benar-benar unik, kemampuannya sebagai manajer tidak luntur termakan usia sedikitpun. Dia telah beradaptasi dengan baik mengikuti perkembangan jaman (coba perhatikan sepakbola jaman awal dia menangani MUFC dengan jaman sekarang), menghadapi lawan-lawan baru yang selalu muncul menghadang (Wenger, Mourinho dan sekarang Mancini), dia bukan jenis makhluk besar perkasa macam dinosaurus yang akhirnya punah karena gagal beradaptasi dengan jaman. Terkadang keputusannya sulit untuk dimengerti malah justru menjadi kesuksesan yang tidak terduga, walau beberapa diantaranya juga ada yang salah. Tidak ada yang sempurna memang.

Hanya Manajer yang tahu apa yang harus dilakukan pasca kekalahan bodoh kemarin, bukan hanya seruan “let’s bounce back” tentunya yang semakin akrab terdengar di telinga kita saat ini. Seruan yang berkobar tanpa ada implementasi sama juga bohong, yang penting adalah aksi dan reaksi nyata di lapangan, bukan cuma pernyataan-pernyataan penenang hati para fans pasca pertandingan.

Jadwal berikutnya adalah bertandang ke St James Park yang bukan merupakan tempat yang cukup ramah untuk dikunjungi, apalagi Alan Pardew sendiri menyempatkan diri hadir di Old Trafford menyaksikan kekalahan kita. Di pertemuan pertama Newcastle mampu mencuri 1 poin di Old Trafford, bisa jadi laga ini akan menjadi lebih sulit dari kelihatannya. Namun saat City kemarin juga kalah di kandang Sunderland dan harus melakoni laga berat melawan Liverpool besok Selasa ini, rasanya kemenangan atas Newcastle di St James Park adalah wajib hukumnya.

Action & Reaction! Not just Bounce Back slogan!

About admin

Telah menuliskan 28 artikel di blog ini.

Related posts:

Share
You can leave a response, or trackback from your own site.

4 Responses to “Blackburn Nemesis ( Sebuah refleksi akhir tahun )”

  1. kcmu says:

    Coba di cek lagi. kayanya untuk pertandingan melawan stoke di Britannia yg main Lindegaard deh bukan de Gea

  2. @rynagiggs says:

    gak ada data penulisnya?

  3. olegunnar says:

    Ttp lawan everton kesalahan yg paling fatal. :’(

Leave a Reply